[FanFics] Sakura, My First or Last Love (chapter 1)

Standard

anyeong readerdeul aiu balik lagi… kali ini sebagai author <=== sombong.

berhubung bahan buat rubrik KEPO belum rampung (padahal lagi males aja), jadi aiu nyoba-nyoba bikin FF nih, biar wordpressnya gak kosong-kosong amat.

selamat membaca semoga readerdeul suka…

page

title : Sakura, My First or Last Love

Cast : – T-ara’s Jiyeon

– 2PM’s Woyoung

– 2AM’s Jinwoon

PG : 15+

Gendre : Romance

 

 

 

Author’s pov

Drrrr drrrr drrrr. Getar ponsel tepat di sebelah tempat tidurnya membuat wooyoung yang baru saja tertidur langsung terperanjat bangun. Dengan sedikit malas dia menjangkau ponselnya. tapi matanya langsung terbuka lebar saat melihat nama di layar ponselnya. jiyeon.

jiyeon menelponnya selarut ini. gadis yang selalu membuat nya dilema akhir-akhir ini.

“yoboseo” wooyoung menjawab panggalian ponselnya, tenang.

“yoboseo, ini benar dengan wooyoung-shi” suara di seberang menjawab. Bukan suara jiyeon, tapi Suara seorang ajhuma.

“huh?.. ah dee.. duguseyo? (siapa ini)” tanya wooyoung. Kali ini dia lebih serius.

“maaf mengganggu. saya pemilik restoran minum2 di daerah hongdae*. di toko saya ada gadis yang mabuk berat. Dia sekarang tertidur. Karena kami mau tutup, terpaksa saya menggunakan ponselnya untuk menghubungi sesorang yang bisa menjemputnya” si ajhuma menjelaskan.

 

******

 

“jiyeon-ah… irona..” wooyoung membangunkan jiyeon sambil menggoyang pelan tubuhnya. Setelah menerima telpon dari ajhuma, tanpa banyak pikir lagi. Wooyoung langsung menuju hongdae menjemput jiyeon yang mabuk berat.

“jiyeon-ah…” wooyoung mengulang seteleh tidak ada tanggapan dari jiyeon. dia tidur dalam keadaan duduk. Kepalanya ditempatakan nyaman di atas meja.

Setelah mengulang berapa kali. Akhirnya jiyeon terbangun. Masih dengan mata sayu jiyeon berusaha mengenali pria yang membangunkannya.

“huh… wooyoung-ahhh.. kau datang.. hehehe” kata jiyeon, suaranya serak.

“jiyeon-ah ayo kita pulang”  kata wooyoung, sambil menarik lengan jiyeon. tapi jiyeon menepisnya.

“sirooo… nanti saja. Ayo kita minum-minum dulu wooyoung-ah…” kata jiyeon dengan suara sedikit nyaring dan serak. Jelas sangat mabuk.

“kau sudah mabuk. Jangan minum lagi” kata wooyoug tenang.

“aku tidak mabuk. Aku masih kuat minum…. wooyoung-ah kau akan menikah. Kita harus merayakannya. Hehehehe.” Kata jiyeon. wooyoung Cuma mngehela nafas. terpaksa meraih tubuh jiyeon dan langsung menggendong jiyeon di punggungnya. Jiyeon sedikit memberontak, namun wooyoung dengan mudah mengatasinya dan membawanya ke mobil.

 

*****

 

Sepanjang perjalanan pulang, jiyeon terus meracau. Wooyoung berusaha tetap tenang. Sambil menyetir, Sesekali wooyoung melirik ke kursi belakang mengawasi jiyeon yang sekarang menyanyikan nyaring lagu “cry-cry” milik T-ara. akhirnya suara jiyeon melemah, dan hanya terdengar gumamam dari bibirnya.

 

******

 

Wooyoung’s  pov

Aku tiba di gedung apartemen jiyeon, langsung menggendong jiyeon di punggungku. Jiyeon masih menggumamkan lirik cry-cry dengan mata terpejam bersandar di bahuku. Hingga aku berdiri tepat di depan pintu apartemennya.

Ragu aku menekan tombol kunci pengaman. Pasword diterima, aku menghela nafas. Jiyeon masih menggunakan tanggal lahirku. Namaku juga masih ada di panggilan cepat di ponselnya, alasan kuat kenapa ajhuma bisa menelponku alih-alih ayahnya.

 

Aku membaringkan jiyeon di tempat tidurnya, melepas mantel dan sepatunya, lalu menyelimutinya. Sepertinya dia sudah tertidur. Aku menatap wajah jiyeon, wajahnya sedikit merah karena mabuk.

Tiba-tiba, setetes air mata keluar dari sudut matanya, jiyeon menangis dalam tidurnya.

Melihat air mata itu, aku kembali dilanda keraguan. Keputusanku menikahi jieun, gadis yang aku pacari setahun belakangan.

Di satu sisi aku sangat bahagia, di sisi lain ada seorang gadis yang menangis.

Melihatnya menangis, hatiku sakit. Kembali pertanyaan yang sama terlintas di benakku. apakah aku masih mencintai jiyeon?

Aku mengusap air  mata di pipi jiyeon, berharap dapat mengapus keraguanku.

 

*****

 

Aku berlahan melangkahkan kakiku meninggalkan jiyeon yang sudah tertidur.

“wooyoung-ah… kajima (jangan pergi)” aku menoleh, jiyeon memanggilku. Dia tidak tidur, jiyeon duduk di tempat tidurnya. Dia menatapku dengan mata sayu, air mata kembali keluar dari sudut matanya.

“kajimma…” sakali lagi jiyeon mengulang, suaranya bergetar. Aku membeku di tempatku berdiri, membalas tatapan jiyeon. air mata itu selalu berhasil membuatku lemah.

“aku harus pergi jiyeon-ah” kataku berusaha tenang.

Keputusan menikahi jieun adalah keputusanku, dari hatiku, untuk kebahagiaanku. Aku mencintai jieun sekarang, jiyeon adalah bagian dari masa lalu.

“besok…. aku harus mengantar jieun. gaun pengantinya sudah sele….”

“bagaimana jika ini terakhir kali kau melihatku?…..  Apa kau tetap akan pergi?”  katanya cepat.  belum selesai aku bicara jiyeon langsung memotong kalimatku.

Aku berusaha mencerna kata-katanya. Terakhir? apa maksudnya? mungkinkah? Aku terdiam…

tidak… tidak mungkin jiyeon melakukan hal bodoh seperti itu” batinku.

Segera aku membuang pikiran negatif di kepalaku. Aku putuskan mengabaikan kata-katanya.

“mianhe jiyeon-ah… aku harus pergi” kataku lalu melangkah keluar dari kamar jiyeon tanpa menoleh.

 

******

 

to be continue..

Advertisements

4 responses »

  1. Anyiiir.. hohoho wooyoung buat bete seriusan -_-
    udah deh jiyeon jangan lemah.. masak ngarepin org yg gak ngarepin kita..
    Lanjut yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s