[FanFics] Sakura, My First or Last Love (chapter 2) final

Standard

first : ” mianhamnida ” bow

second : ” anyeong ” sambil dadah dadah

third : ” kekekeke” awkward smile

mian mian mian, udah lama aiu gak ngepost apapun selama ehmmmm 4 bulan terakhir yah… pas buka wordpress udah banyak sarang laba-laba sama ada gelandangan yg lagi bobo ASTAGA …

akhirnya aiu balik lagi, readerdeul kangen kan sama aiu. akhir-akhir ini aiu lagi sibuuukkk gak ketulungan. ngantor jam 8 pagi ampe 5 sore. pulang ngantor udah keburu capek, gak ada kesmpatan buat nulis. < === CURHAT

nah mumpung lagi ada waktu sedikit, aiu mau ngepost FF yg kemaren. FF aja yah…

untuk rubrik KEPO nya d pending dulu… kekekeke

anyway happy reading readerdeul… *wink wink wink*

page

title : Sakura, My First or Last Love

Cast : – T-ara’s Jiyeon

– 2PM’s Woyoung

– 2AM’s Jinwoon

PG : 15+

Gendre : Romance

pukul 10 am.

Wooyoung pov.

Setelah percakapanku dengan jiyeon semalam, aku tidak bisa tidur sama sekali. pernyataan jiyeon tentang terakhir kali melihatnya mau tidak mau kembali memenuhi pikiranku.

“Terakhir? Apa maksudnya? Dia tidak mungkin melakukan hal bodoh kan? Apa yang dia maksud terakhir kali? Ahhhh kenapa semalam aku meninggalkannya, seharusnya aku selesaikan dulu percakapanku dengan jiyeon. aku harus menghubunginya sekarang.”

Segera aku ambil ponselku, saat hendak menekan tombol panggilan, tiba-tiba ada panggilan masuk. Jinwoon menelponku.

“yoboseo!!!” kataku keras. Kenapa dia menelpon saaat seperti ini.

“wah… udong-ah, calm down dude…. kenapa denganmu?” kata jinwoon, santai.

“bukan urusanmu… cepat katakan apa maumu” kataku galak.

“aku ingin bertemu denganmu sekarang. Ada yang ingin aku berikan padamu” jawab jinwoon cepat.

“lain kali saja, aku sibuk”

“ini tentang jiyeon. dia menitipkan sesuatu untukmu…  katanya harus diberikan padamu sekarang“

“jiyeon? apa maksudmu? kenapa dia menitipkan padamu tidak memberikannya langsung padaku?” aku semakin gelisah, semalam jiyeon bertemu denganku. jika dia mau memberikan sesuatu, kenapa dia tidak memberikannya langsung padaku. Kenapa dititipkan pada jinwoon?

“jiyeon…. dia baru saja berangkat ke jepang….  Dan sekarang dia sudah di pesawat menuju jepang….” jinwoon diam sejenak.

“jiyeon…. dia akan menetap di jepang tidak akan kembali ke korea” lanjut jinwoon.

Aku terdiam.

Ini Yang dimaksud terakhir kali.

Semalam memang terakhir kali aku melihatnya.

 Bahkan….  sampai saat terakhir aku tetap membuatnya menangis.

****

Author pov.

Wooyoung dan jinwoon duduk berhadapan di sebuah cafe . 2 cangkir americano tersaji di hadapan mereka.

“ini untukmu. Dia memberikannya tadi pagi, saat di bandara. Sebelum dia berangkat ke jepang” jinwoon mendorong sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah dengan sebuah amplop surat. Wooyoung menghela nafas.

“kau mengantarnya? Kenapa kau tidak bilang padaku?” kata wooyoung sedikit gusar  sambil mengambil kotak merah dan mebukanya. sepasang cincin pertunangan. cincin yang dulu menghiasi jari jiyeon dan wooyoung. wooyoung mengembalikan cincin miliknya pada jiyeon saat mereka berpisah.

“dia menyuruhku tidak bilang padamu” kata jinwoon singkat, mengambil cangkir di hadapannya dan menyeruput americano hangatnya.

“jiyeonie… dia mengembalikan cincin pertunangan kalian. Katanya kau lebih membutuhkan cincin itu daripada dia” lanjut  jinwoon tenang.

Wooyoung meletakan kotak perhiasan dan mengambil amplop berwarna biru, warna kesukaan jiyeon.  wooyoung membuka amplop tersebut, didalamnya selembar kertas, hanya terukir sebuah kalimat.

“Terima kasih sudah mau menjadi cinta pertamaku”

 *******

Sapporo jepang, musim semi 2013 (setahun kemudian)

 Jiyeon pov

Aku berjalan diantara kebahagaian orang-orang ini. festival sakura, Selalu jadi obat paling mujarab bagi orang-orang untuk melupakan rutinitas sejenak. Tidak ada kesedihan, kegundahan, dan tangisan, semua digantikan tawa bahagia, musik taridisional jepang, dan dentingan gelas berisi sake. Ditemani kamera kesayangan, Naluri fotograferku terus bekerja menangkap momen paling bahagia masyarakat jepang dengan latar belakang bunga sakura merah muda.

Hingga lensa kameraku menangkap sosok yang bermain gitar diantara kerumunan gadis jepang. Pria tinggi dengan senyum khas menghiasai wajahnya yang selalu berhasil menarik para gadis. Aku mendekat, semakin yakin aku mengenalnya.

“yah…. rocker jung” teriakku. Para gadis jepang serempak menoleh melihatku. Dan tentu saja si rocker sahabatku, berhenti dari permainan gitarnya.

“oh…. jiyeon-a” balasnya dengan senyum khasnya, “the eyes smile killer” begitu para gadis memanggilnya.

Author pov

Pertemuan tidak terduga dua sahabat. Dibawah pohon sakura rindang, bertukar cerita lama diselingi tawa renyah. Langit di atas puncak pohon sakura mulai menjingga, namun tidak menyurutkan semangat masyarakat jepang untuk terus berpesta di bawah pohon sakura.

“yah… aku tidak menyangka bertemu denganmu disini” kata jiyeon girang. Dibalas senyuman oleh jinwoon.

“hehe aku juga… kau masih jadi model?” tanya jinwoon.

“tentu saja. Tapi sekarang aku punya hobi baru” kata jiyeon menunjukan kamera yang menggantung di lengannya.

“hooo… hobi baru huh? Tapi aku rasa hobi belanjamu tidak akan hilang begitu saja” ejek jinwoon.

“ tchh… belanja bukan hobi, tapi kebutuhan. Kau tau?” kata jiyeon membela diri. Jinwoon hanya tersenyum.

“ Dan kau masih tetap ngamen? Bahkan di negara orang?” jiyeon membalas bertanya.

“yah jangan sembarangan… sudah aku bilang, aku bukan pengamen. Tapi musisi jalalan…. lagipula pengamen mana yang sebentar lagi akan mengeluarkan album” kata jinwoon bangga.

“album?… tunggu dulu. Maksudmu benar-benar album?”tanya jiyeon tidak percaya.

“yah…kau tidak percaya padaku? Asal kau tau saja aku sudah tanda tangan kontrak dengan lebel jepang…” protes jinwoon.

“wahhh… cukkae cinggu-yah….” jiyeon bertepuk tangan ramai. Sementara jinwoon tersenyum bangga sambil memeluk gitarnya.

“lalu bagimana band mu?  Jin young? Jisoo? Wooy… oung?” jiyeon agak tebata menyebutkan nama terakhir. seketika jantungnnya berdetak cepat. Jiyeon menelan ludah dan pura-pura tebatuk. Jinwoon memperhatikannya. Dia tau sahabatnya ini masih belum bisa melupakan cinta pertamanya.

“jin youngie dia jadi koreografer di sekolah tari. Jisoo,  dia melanjutkan sekolah. Mahasiswa s2 di siang hari dan performer cafe di malam hari.” Jinwoon berhenti sejenak, melirik jiyeon dari sudut matanya.

“wooyoungie… dia jadi koreografer di jypent. Dan…. yang aku dengar 2 bulan lagi dia akan jadi ayah” jinwoon berhasil melanjutkan. Jiyeon hanya diam, menatap satu arah. Memori tentang cinta pertamanya kembali berputar di kepalanya.

“jiyeon-ah… kau masih belum bisa melupakannya kan?” tanya jinwoon pelan.

“huh?” jiyeon tersadar dari lamunan.

“wooyoungie… jiyeon-ah, dia akan jadi seorang ayah” jinwoon serius. jiyeon terdiam, lalu dia menyeringai wajah cantiknya kini dihiasi senyum kecil.

“jinwoon-ah…  kau tau? bagiku melupakan cinta pertama tidak semudah membalikan telapak tangan. Begitu banyak kenangan yang aku lalui bersamanya. Tapi sekarang, wooyoungie sudah bahagia dengan cinta terakhirnya begitu juga aku. mungkin berat di awal, tapi sekarang aku sangat bahagia.” Jiyeon tersenyum lebar.

jinwoon tetap menatap jiyeon serius.

“yah… kenapa kau menatapku seperti itu?” jiyeon mulai risih dengan tatapan intens sahabatnya.

“jadi… kau sudah menemukan cinta terakhirmu?” tanya jinwoon.

“saat ini belum, tapi suatu saat nanti aku pasti bertemu dengannya” jiyeon tersenyum. jinwoon membalas dengan senyuman juga.

“bagaimana denganmu? Masih menggoda para noona dengen eyes smile mu? Apa jangan-jangan kau sudah menetapakan hatimu pada satu wanita?” tanya jiyeon, tau persis kebiasaan sahabatnya yang selalu memanfaatkan pesona senyumnya untuk menggoda para noona.

“ehmmm tentu saja” jinwoon menjawab dengan senyum kecil, matanya menatap kedepan.

“ah cinca? Dugu?” jiyeon penasaran.

“cinta pertamaku… dan seperti katamu, aku berharap dia juga mau menjadi cinta terakhirku.” Masih dengan senyum kecil, jinwoon menjawab pertanyan jiyeon dan kembali menatap jiyeon.

“cinta pertamamu?” jiyeon penasaran. Pasalnya selama 5 tahun persahabatan mereka, jinwoon tidak pernah cerita tentang cinta pertamanya. Tidak disangka seorang cassanova seperti jinwoon juga punya cinta pertama.

“eung… sejak awal hatiku memang untuknya,  dan perasaan itu tidak pernah berubah hingga sekarang” kata jinwoon, dengan gaya hasnya yang santai.

“aku tidak tau kau punya cinta pertama. jadi dimana dia sekarang? Apa aku mengenalnya?” jiyeon masih penasaran.

“kau mengenalnya. Lebih dari siapapun…. dia duduk disampingku sekarang…. Park jiyeon aku mencintaimu. Apa kau mau menjadi cinta terakhirku?” kata jinwoon lebih serius, masih dengan senyuman khasnya jinwoon membuat pengakuan.

“huh?  aku?” jiyeon terdiam. Masih berusaha mencerna kata-kata jinwoon. Jinwoon menatapnya berlahan senyum di bibirnya memudar.

“huh? Hanya itu reaksimu? Huh dan aku?” jinwoon mengerutkan dahinya. Jiyeon menelan ludahnya. Dia memang tidak tau harus berekasi seperti apa, pengakuan jinwoon yang tiba-tiba membuat pikirannya tiba-tiba kosong.

“memangnya aku harus berekasi seperti apa?” jiyeon balik bertanya.

“setidaknya bicaralah yang lain… “benarkah  jinwoon ah? oh aku sangat tersentuh. Jinwoon ah Aku juga mencintaimu!”  ” kata jinwoon, menirukan gaya bicara seorang wanita.

“yah!… salahmu sendiri. Kenapa bilang tiba-tiba… pengakuanmu membuatku bingung” kata jiyeon setengah berteriak.

“yah kenapa kau jadi marah padaku?” jinwoon membalas dengan mengencangkan suaranya.

Ppookk !!!

 Jiyeon memukul keras kepala jinwoon.

“yah! Beraninya kau meneriakiku!” teriak jiyeon. lalu berdiri. Jinwoon mengusap kepalanya. Sambil menatap jiyeon cemberut. Jiyeon mengalihkan matanya dari dari tatapan jinwoon.

“apo…”kata jinwoon seperti bocah, masih mengusap kepalanya. jiyeon sedikit melirik pada jinwoon.

“ehmm mian… lagipula semua salahmu.” Kata jiyeon masih tidak mau disalahkan. Sebenarnya semua tindakan jiyeon adalah untuk menutupi perasaan gugupnya.  Jantungnya berdebar cepat. Sangat canggung jika sahabatmu sendiri tiba-tiba menyatakan cinta.

“araso…” kata jinwoon, ikut berdiri. Jiyeon masih belum berani menatap jinwoon. Walaupun jinwoon sahabatnya sendiri, tapi sebagai wanita jiyeon tetap gugup jika dia harus menatap mata jinwoon secara langsung.

“jadi… apa kau menerimaku?” kata jinwoon berlahan.

“apa?” jiyeon kembali bertanya. Masih belum berani menatap jinwoon.

Seketika jinwoon memegang kedua bahu jiyeon dan memutar tubuhnya menghadapnya.

“cinta terakhirku! Apa kau mau menjadi cinta terakhirku?” jinwoon kembali mengulang pengakuannya. Jiyeon berlahan mengangkat kepalanya berusaha menatap wajah pria jangkung dihadapannya.

“jinwoon-ah… kenapa kau tidak mengakuinya sejak awal?” alih-alih menjawab pertanyaan jiinwoon. Jiyeon malah menanyakan pertanyaan lain.

“huh… itu… karena aku takut kehilanganmu” kata jinwoon pelan, terdengar sedikit gugup.

“aku tau kau tidak pernah mencintaiku. Kau hanya menganggapku sahabat, yang kau cintai hanya wooyoung. Jika aku menyatakan cintaku saat itu kau pasti akan menolakku. Pasti akan sangat canggung jika kita terus bertemu. Aku takut kau menghindariku dan menjauh dariku.”sambung jinwoon.

Jiyeon menelan ludah.

“lalu kenapa sekarang kau menyatakan cinta padaku? Kau tidak takut aku menolakmu dan meninggalkanmu?” jiyeon masih melanjutkan pertanyaannya.

Terlalu banyak pertanyaan di benaknya, pengakuan jinwoon yang sangat tiba-tiba membuatnya penasaran akan segala hal. Termasuk,   perasaannya sendiri, apa dia siap untuk melupakan cinta pertamannya wooyoung dan menerima jinwoon sebagai cinta terakhirnya.

“kau tidak akan meninggalkanku. sudah terlalu lama aku menunggumu. Kau tidak akan membuatku menunggu lagi” kata jinwoon. Matanya langsung menatap mata jiyeon. membuat jiyeon sangat tidak nyaman dengan tatapannya.

“apa yang membuatmu begitu yakin?” tanya jiyeon lagi. Sebenarnya juga bertanya pada dirinya sendiri. Apa dia yakin dengan memberikan hatinya untuk jinwoon.

“perasaanku mengatakan begitu. Kau tidak akan menolakku dan tidak akan pernah membuatku menunggu sekali lagi” kata jinwoon tegas. Jiyeon menelan ludah. Jantungnya semakin berdebar kencang.

 Hening lama, mereka berdua saling bertatapan. Jiyeon dengan gejolak di hatinya, jinwoon dengan kegelisahannya menunggu jawaban dari jiyeon.

 matahari sudah berada di sisi lain bumi, langit malam musim semi dihiasi bintang menambah Kemeriahan festival sakura. Festival sakura hari ini  akan segera berakhir dan mendekati puncak acara.

“ehmmm… baiklah… aku menerimamu“ akhirnya jiyeon bicara. Kata-kata yang paling ingin didengar jinwoon. Spontan jinwoon menghela nafas lega, senyuman lebar terbentuk di bibirnya.

“tapi…” jiyeon melanjutkan.

“tapi apa?” senyuman jinwoon memudar dan kembali tegang.

“aku belum bisa memberikan hatiku seutuhnya untukmu. Kau tau, sebagian hatiku masih untuk wooyoung. Aku harap kau bisa menunggu sedikit lebih lama hingga aku benar-benar siap memberikan hatiku untukmu seutuhnya” kata jiyeon, suaranya sedikit bergetar. untuk sesaat segurat kekecewaan tampak di wajah jinwoon. Namun langsung tergantikan dengan senyuman lebar di wajahnya.

“kwencana… lagipula aku sudah terbiasa menunggumu” kata jinwoon dengan senyuman khasnya. Jiyeon membalasnya dengan senyuman pula.

“jadi… ehmmm… sekarang kita resmi pacaran?” jinwoon memastikan.

“aku rasa begitu” jawab jiyeon malu. wajahnya seketika merona.

Tiba-tiba Jinwoon menarik jiyeon kedalam pelukannya.  gadis itu diam, tidak membalas pelukan pria jangkung.

“aku akan membuatmu jadi milikku seutuhnya park jiyeon. secepatnya” kata jinwoon pelan. tapi suaranya terdengar jelas di telinga jiyeon. jiyeon tersenyum.

“lakukanlah! Buat aku mencintaimu! Yakinkan aku bahwa kau adalah cinta terakhirku” balas jiyeon, lalu berlahan mengangkat tangannya melingkarkannya di pinggang pria jangkung itu, jiyeon  membalas pelukan jinwoon. jinwoon mempererat pelukannya.

Seketika langit gelap di atas puncak pohon sakura berubah terang, dipenuhi kembang api indah berbagai rupa. Dua pasangan baru jinwoon dan jiyeon merilis pelukan, dan berdiri berdampingan menikmati keindahan di langit jepang.

 

4 bulan kemudian.

“anyeong…” teriak jinwoon dengan full aegyo saat jiyeon membukakan pintu untuknya.

“yah! Berhenti bertingkah seperti itu” jiyeon setengah berteriak. Alih-alih membalas dengan lemah lembut saapaan pacarnya. Seketika wajah jinwoon berubah cemberut. Jiyeon mengabaikannya lalu meninggalkan jinwoon yang masih di pintu masuk apartemennya.

“we… apa aku tidak boleh beragyeo untuk pacarku” kata jinwoon menutup pintu, lalu mengikuti jiyeon hingga ke ruang tengah.

Jiyeon menghempaskan tubuhnya di sofa, duduk bersandar.  Ekspresi Wajahnya datar matanya tertuju ke tv di hadapannya. Jinwoon ikut duduk disamping jiyeon, memperhatikan pacarnya yang sedang bad mood.

“untukmu…” kata jiyeon, sekilas menunjuk sebuah kotak di meja dihadapan mereka. jinwoon mengalihkan perhatiannya ke kotak di hadapannya, kotak itu di bungkus rapi tampak seperti kado.

“uh? Hadiah untukku yah?” tanya jinwoon bersemangat, kembali menunjukan aye smiles nya. segera dia mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah tali gitar, berwarna merah hati. Terukir namanya di pangkal tali, disulam rapih.

“wah… tali gitar… gomawo jagiya…” kata jinwoon dengan aegyonya.

“jangan salah sangka… itu bukan dariku..” kata jiyeon ketus. Ekspresi jinwoon berubah.

“itu dari kumiko-chan..” kata jiyeon masih ketus, dengan ekspresi datarnya.

“kumiko-chan?… ah… gadis SMU yang tinggal di apartemen 5. Aku sudah menduganya tetanggamu itu menyukaiku” kata jinwoon santai, tersenyum lebar. lalu memudar melihat ekspresi jiyeon yang cemberut.

“we? Kau cemburu?… aigoo uri jiyeon-ie cemburu”  kata jinwoon, menggoda jiyeon. jiyeon mendengus.

“siapa bilang aku cemburu… “jiyeon mengelak, ekspresinya berubah cemberut kesal.

“kau cemburu… lihat saja ekspresimu, kau cemberut. Hidungmu kembang kempis. Telingamu merah… akui saja kau cemburu” jinwoon semakin menggoda jiyeon. entah kenapa dia sangat menikmati momen ini. semakin jiyeon menunjukan kecemburuan, semakin membuktikan bahwa gadis itu mulai mencintainya, dan cinta itu semakin besar dari hari ke hari.

“yah!… aku tidak cemburu… aku hanya kes… ackkk” belum sempat jiyeon menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba jinwoon menariknya kedalam pelukan.

“kau cemburu jiyeon-ah…. kau cemburu…. akui saja” kata jinwoon lembut, mempererat pelukan. Jiyeon membeku dengan jantung yang berdebar kencang.

“karena itu. aku berterima kasih padamu….”

“terima kasih sudah cemburu untukku, terimakasih karena mempercayakan hatimu untukku”

“terima kasih sudah mau menjadi cinta terakhirku”

“hatimu milikku, seutuhnya”

***

Advertisements

3 responses »

  1. Yeeee… jinwoon jiyeon bahagia hoho
    Tapi buat woyoung nyesal keg gitu… kesel banget ma wooyoung seriusan!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s